Bayangan di Balik Pintu Terakhir

0 0
Read Time:4 Minute, 18 Second

Bayangan di Balik Pintu Terakhir – Malam itu hujan turun tanpa suara. Tidak ada gemuruh, tidak ada kilat. Hanya titik-titik air yang jatuh perlahan seperti bisikan. Arman baru saja pindah ke rumah tua warisan kakeknya di pinggir kota. Rumah itu berdiri sendiri di antara pepohonan tinggi yang tampak seperti penjaga bisu.

Sejak kecil, Arman tidak pernah menyukai rumah ini. Dindingnya lembap, catnya mengelupas, dan lorong panjangnya terasa seperti menelan cahaya. Namun karena kebutuhan, ia memutuskan untuk tinggal di sana sementara waktu.

Hari pertama berjalan normal. Ia membersihkan debu, membuka jendela, dan mencoba membuat suasana terasa lebih hidup. Namun ada satu pintu di ujung lorong yang tidak pernah bisa ia buka. Pintu itu lebih gelap dari yang lain, seolah menyerap cahaya di sekitarnya.

Kakeknya dulu pernah berkata, “Jangan pernah buka pintu terakhir.” Saat itu Arman menganggapnya hanya dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil.

Malam kedua, suara langkah terdengar dari lorong. Pelan. Teratur. Seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki di atas lantai kayu. Arman terbangun dan duduk kaku di tempat tidur. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kayu yang memuai karena perubahan suhu.

Langkah itu berhenti tepat di depan kamarnya.

Tok.

Satu ketukan.

Arman menahan napas.

Tok. Tok.

Dua ketukan berikutnya lebih keras.

Dengan jantung berdegup tak terkendali, ia bangkit dan membuka pintu kamar. Lorong kosong. Lampu gantung bergoyang perlahan meski tidak ada angin.

Namun di ujung lorong, pintu terakhir itu kini sedikit terbuka.

Arman yakin ia telah menguncinya siang tadi.

Ia mendekat dengan langkah ragu. Udara di sekitar pintu terasa lebih dingin. Bukan sekadar dingin biasa, melainkan dingin yang menusuk tulang. Dari celah pintu, terdengar suara napas. Berat. Dalam. Seolah sesuatu sedang menunggu.

“Ini cuma perasaan,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia menutup pintu itu kembali dan memastikan kuncinya terpasang. Tangannya gemetar saat kembali ke kamar.

Malam berikutnya lebih buruk.

Sekitar pukul tiga pagi, Arman terbangun karena suara bisikan. Bukan satu suara, melainkan banyak. Mereka berbisik dalam bahasa yang tidak ia pahami. Namun anehnya, ia merasa mereka memanggil namanya.

“Arman…”

Ia membuka mata perlahan.

Di sudut kamar, ada bayangan yang lebih gelap dari kegelapan. Bayangan itu tidak menempel pada dinding. Ia berdiri sendiri.

Arman tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, seperti ditindih sesuatu yang tak terlihat. Bayangan itu perlahan bergerak mendekat, tanpa langkah, tanpa suara. Hanya meluncur.

Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, terdengar suara retakan kayu dari lorong.

Bayangan itu berhenti.

Lalu menghilang.

Arman tersentak dan akhirnya bisa bergerak. Ia bangkit dan menyalakan lampu. Kamar kosong. Namun pintunya terbuka lebar.

Ia tidak ingat membukanya.

Keesokan harinya, Arman memutuskan mencari tahu sejarah rumah itu. Ia mendatangi seorang tetangga tua yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun.

Wanita itu menatapnya lama sebelum berkata, “Kakekmu tidak pernah menceritakan semuanya, ya?”

Arman menggeleng.

“Dulu, sebelum rumah itu diwariskan, ada kamar yang disegel. Katanya, sesuatu terikat di sana. Bukan hantu biasa. Tapi bayangan yang tidak punya tubuh.”

Arman merasakan darahnya membeku.

“Maksudnya?”

“Setiap generasi keluarga kalian harus menjaganya tetap terkunci. Jika pintu itu terbuka terlalu lama, ia akan mencari tempat baru untuk tinggal.”

Malam itu, Arman kembali ke rumah dengan perasaan tidak tenang. Ia berdiri di depan pintu terakhir. Kuncinya masih terpasang.

Namun dari balik pintu, terdengar suara goresan.

Grek… grek…

Seperti kuku panjang menggaruk kayu.

Arman mundur selangkah.

Tiba-tiba, lampu lorong padam.

Gelap menyelimuti rumah.

Dalam kegelapan, suara napas terdengar lagi. Kali ini tepat di belakangnya.

Arman berbalik dengan cepat, namun tidak melihat apa pun. Hanya lorong yang tak berujung.

Goresan di pintu berubah menjadi dentuman.

BRAK!

Pintu bergetar keras.

BRAK! BRAK!

Kayunya mulai retak.

Arman panik. Ia mencoba menahan gagang pintu, seolah tekanan dari dalam bisa dihentikan dengan tangan kosong. Namun dingin merayap dari gagang ke seluruh lengannya.

Tiba-tiba, semua suara berhenti.

Sunyi.

Arman berdiri terengah.

Perlahan, ia melepaskan gagang pintu.

Dari dalam, terdengar suara pelan.

“Terima kasih.”

Pintu terbuka sendiri.

Bukan seperti didorong, tetapi seperti ditarik dari dalam oleh tangan tak kasat mata.

Kegelapan di dalam kamar itu berbeda. Ia tidak seperti ruangan gelap biasa. Ia tampak hidup. Bergerak. Berdenyut.

Dari dalam, bayangan itu keluar.

Kini lebih jelas.

Ia menyerupai manusia, namun tanpa wajah. Tanpa mata. Tanpa mulut. Hanya siluet hitam pekat yang menyerap cahaya.

Arman mundur, namun bayangan itu mengikuti.

“Sudah lama aku menunggu,” suara itu terdengar langsung di kepalanya.

Arman berlari ke arah pintu depan. Namun lorong terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah seperti tidak membawa ia lebih dekat ke ujung.

Lampu kembali menyala.

Arman terhenti.

Ia tidak lagi berada di lorong.

Ia berdiri di dalam kamar terakhir.

Pintu di belakangnya tertutup.

Di sekelilingnya hanya kegelapan yang bergerak perlahan seperti kabut tebal.

Bayangan itu kini berdiri tepat di depannya.

“Setiap penjaga akhirnya lelah,” bisiknya.

Arman merasakan sesuatu merayap ke dalam pikirannya. Kenangan-kenangan masa kecilnya di rumah itu. Ketakutan yang pernah ia rasakan. Semua menyatu.

Ia teringat pesan kakeknya.

Jangan pernah buka pintu terakhir.

Tapi sudah terlambat.

Bayangan itu menyentuh dadanya.

Rasa dingin menyebar cepat. Dunia terasa menjauh. Suara hujan kembali terdengar, meski kini seperti berasal dari dasar sumur.

Keesokan paginya, tetangga menemukan rumah itu sunyi. Pintu depan terbuka sedikit.

Arman tidak ditemukan di mana pun.

Namun di ujung lorong, pintu terakhir tertutup rapat.

Dari balik pintu, terdengar langkah pelan.

Dan satu ketukan.

Tok.

Seolah menunggu penjaga berikutnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %