Jam Ketiga di Rumah Tanpa Nama

0 0
Read Time:3 Minute, 39 Second

Kedatangan ke Kampung Misterius

Tidak ada papan alamat di depan rumah itu. Selain itu, cat temboknya mengelupas seperti kulit mati, dan pintunya selalu tertutup rapat, seolah menolak siapa pun yang berniat masuk. Orang-orang kampung menyebutnya Rumah Tanpa Nama, bukan hanya karena tidak dikenal, tetapi karena tidak ada yang berani menyebut namanya dengan suara keras.

Aku pertama kali datang ke kampung itu karena pekerjaan. Sebagai surveyor jaringan, tugasku sederhana: memetakan wilayah dan memastikan sinyal stabil. Namun, sejak hari pertama, suasana kampung terasa janggal. Warga jarang keluar rumah setelah magrib, dan setiap kali aku bertanya tentang rumah tua di ujung jalan, mereka hanya menggeleng, lalu mengalihkan pembicaraan.

“Jangan berada di sana lewat jam tiga,” kata seorang ibu tua di warung, suaranya nyaris berbisik.
“Jam tiga apa?” tanyaku.
Ia menatapku lama. “Jam ketiga.”

Aku mengira itu hanya mitos kampung, tetapi malam itu membuktikan sebaliknya.


Malam Pertama dan Kedua

Aku menginap di rumah kontrakan sederhana, yang letaknya tidak jauh dari Rumah Tanpa Nama. Malam pertama berlalu tenang. Sementara itu, malam kedua, sekitar pukul 02.47, aku terbangun oleh suara ketukan. Pelan. Teratur. Seperti seseorang yang mengetuk dengan kuku.

Tok. Tok.

Ketukan itu tidak berasal dari pintu, melainkan dari arah jendela. Padahal kamarku berada di lantai dua, dan di luar hanya ada tembok kosong. Setelah beberapa detik, aku menyalakan lampu. Ketukan berhenti. Kupikir hanya halusinasi karena lelah, lalu aku kembali tidur.

Tepat pukul 03.00, udara mendadak dingin. Jam dinding berhenti berdetak. Kemudian, suara itu datang lagi—kali ini langkah kaki di plafon, berat dan perlahan, seolah seseorang berjalan tanpa alas kaki.


Penjelasan dari Pemilik Kontrakan

Keesokan paginya, aku bertanya pada pemilik kontrakan. Namun, ia hanya menatapku dengan wajah pucat.
“Kamu dengar langkah?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ia menunduk. “Berarti kamu sudah ditandai.”

Aku mendesaknya menjelaskan. Akhirnya, setelah lama diam, ia bicara.

Dulu, Rumah Tanpa Nama adalah rumah keluarga besar: suami, istri, dan tiga anak. Suatu malam, tepat jam tiga, seluruh kampung mendengar jeritan panjang. Pagi harinya, rumah itu sunyi. Polisi menemukan seluruh keluarga tewas, tetapi tidak ada tanda kekerasan. Wajah mereka membeku dalam ekspresi ketakutan ekstrem, mata terbuka lebar, seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Sejak saat itu, setiap orang yang berada di dekat rumah itu pada jam ketiga akan “dipanggil”.

“Dipanggil ke mana?” tanyaku.
Pemilik kontrakan menatapku. “Ke dalam.”


Dorongan untuk Mendekati Rumah

Aku seharusnya pergi hari itu juga. Namun, pekerjaan belum selesai, dan entah kenapa, ada dorongan aneh di dalam kepalaku—keinginan untuk melihat rumah itu lebih dekat.

Sore hari, aku berdiri di depan Rumah Tanpa Nama. Pintu kayunya penuh goresan, seperti bekas cakar, dan jendela-jendelanya hitam, tidak memantulkan cahaya apa pun.

Saat aku menyentuh gagang pintu, bisikan terdengar.

“Masuk…”

Aku tersentak, mundur beberapa langkah. Tetapi, tidak ada siapa pun di sekitarku. Aku pulang dengan jantung berdebar, dan malam itu memutuskan untuk berjaga agar tahu apa yang terjadi pada jam ketiga.


Jam Ketiga Tiba

Pukul 02.55. Udara mulai menekan dadaku, sementara lampu berkedip.
02.58. Aroma tanah basah memenuhi ruangan, seperti bau kuburan yang baru digali.
02.59. Bayanganku di cermin tersenyum, padahal aku tidak.
03.00. Lampu mati.

Dalam gelap, aku mendengar pintu kontrakan terbuka sendiri. Langkah kaki mendekat, dan nafas seseorang tepat di belakang telingaku.

“Kamu datang…” suara itu serak, berasal dari tenggorokan yang seolah penuh lumpur.

Aku berbalik. Namun, tak ada siapa pun. Bayanganku di cermin kini berdiri di belakangku, kepalanya miring tidak wajar.

“Jam ketiga adalah waktu kami pulang,” katanya.
“Siapa kalian?” teriakku.
“Yang tidak sempat pergi.”

Tanganku terasa berat, dan kakiku melangkah sendiri menuju Rumah Tanpa Nama. Aku berteriak, tetapi suaraku seakan ditelan udara. Pintu rumah itu terbuka lebar.


Menghadapi Keluarga Hantu

Di dalam, mereka berdiri diam, wajah pucat, mata hitam tanpa putih. Selain itu, di belakang mereka, ratusan bayangan merayap di dinding, saling tumpang tindih, berbisik tanpa suara.

“Kamu menggantikan kami,” kata sang ayah.
“Tidak,” aku menggeleng, air mata jatuh.
“Semua yang mendengar panggilan selalu bilang begitu.”

Dinding menutup. Pintu menghilang. Jam di dinding menunjukkan 03.01.


Bangun di Pinggir Jalan

Aku terbangun di pinggir jalan saat matahari terbit. Warga mengerubungiku. Rumah Tanpa Nama di belakangku… rata dengan tanah.

“Kamu selamat,” kata ibu tua dari warung.
“Rumahnya?” tanyaku.
Ia menatapku dengan wajah serius. “Rumah itu sudah lama tidak ada.”

Aku pulang ke kota hari itu juga.

Namun, sejak malam itu, setiap jam menunjukkan pukul 03.00, bayanganku di cermin selalu terlambat satu detik menirukan gerakanku.

Dan kadang… ia tersenyum lebih dulu.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %